
Jakarta (Globalasia 48 co.id) – Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana berpendapat bahwa Amerika Serikat (AS) memanfaatkan Israel sebagai proksi (perwakilan) untuk menyerang Iran.
Hikmahanto, di Jakarta, Kamis, (19/6/2025), mengatakan AS memiliki dua alasan untuk menyerang Iran, yaitu karena Iran dianggap sebagai kekuatan di belakang Hamas, Hezbollah, Houthi yang menyerang Israel.
Alasan yang kedua adalah program pengembangan nuklir Iran yang dikhawatirkan akan digunakan untuk menyerang Israel, lanjutnya.
Hal tersebut juga dapat dilihat dari pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai perundingan kesepakatan nuklir Iran, khususnya terkait pengayaan uranium di Iran.
“Hanya saja kalau Amerika Serikat melakukan serangan langsung ke Iran, tentu ini tidak mempunyai basis hukum dan juga bahwa yang dilakukan oleh AS ini akan menjadi kritikan bagi masyarakat internasional,” jelas Hikmahanto.
Dia pun menilai akan terjadi perang dunia ketiga jika AS benar-benar menyerang Iran.
Meski begitu, menurutnya, masih ada satu hal yang dapat dilakukan untuk mencegah perang, terutama mencegah AS untuk menyerang Iran, yaitu dengan kekuatan rakyat.
“Kalau rakyat di mana-mana mereka demo dan lain sebagainya, itu nanti akan di viralkan, akhirnya takut juga Trump untuk tidak melakukan itu (menyerang Iran),” ujarnya.
Sebelumnya, dilaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump, mengatakan kepada para pejabat senior AS bahwa dirinya telah menyetujui rencana untuk menyerang Iran, tetapi belum memberikan perintah final tentang pelaksanaannya.
Disebutkan bahwa Trump masih menunggu langkah Iran untuk menghentikan program nuklirnya, dan mengincar fasilitas pengayaan uranium bawah tanah Fordow milik Iran. Namun untuk menyerang fasilitas yang memiliki sistem pertahanan yang sangat dalam itu, diperlukan senjata paling kuat.
Survei Washington Post, mengungkapkan bahwa sekitar satu dari lima warga AS percaya bahwa program nuklir Iran adalah ancaman serius dan langsung terhadap AS, sementara hampir separuhnya menganggap sebagai ancaman agak serius, dan sepertiga lainnya melihat sebagai ancaman yang tidak terlalu mengancam, dikutip dari Antara.
Sekitar empat dari 10 warga AS mengatakan mereka sangat khawatir AS akan terlibat dalam perang skala penuh dengan Iran, sementara proporsi yang hampir sama menyatakan sedikit khawatir. (GA/Red)








